Showing posts with label Adat Karo. Show all posts
Showing posts with label Adat Karo. Show all posts

Monday, 14 November 2011

Sejarah Suku Karo


Sejarah Suku Karo


Master catur Karo disaksikan dengan seksama oleh para penikmat catur karo
MIGRASI
Pada pra- sejarah terjadi perpindahan bangsa- bangsa  termasuk di Asia  yang khusus ke Indonesia  datang dari  Asia Selatan  dan Tenggara . Percampuran  darah terjadi  antar  bangsa- bangsa tersebut  dengan penduduk  yang telah bermukim  sebelumnya  di Nusantara  ini merupakan  nenek moyang kita  dan pada umumnya  yang mendiami  pesisir  sebagai orang  bahari.
Menurut Versi Karo : Leluhur  hidup  dari menangkap ikan , bertani, berburu, berdagang , mengarungi samudra luas. Hal ini  diceritakan  bersambung hampir setiap malam  di lantai lumbung padi  yang dinamakan ‘Jambur’  dari purbakala  hingga menjelang  tahun 1940  di daerah yang  penduduknya  suku Karo .
Cerita yang bersambung mengenai seluk beluk asal muasal suku Karo , kebudayaan, bahasa dan adat istiadat serta perjuangan  hidupnya  biasanya di namakan ‘Turi- turin  atau Terombo Karo’. Setiap cerita ditayangkan  melalui lagu merdu pada malam hari sampai dini hari selama tujuh malam.
Aku dulu pernah  mendengarkan cerita bersambung itu sebelum  memasuki bangku sekolah. Karena sudah  dilalui puluhan tahun, bisa jadi ada kelupaan  dalam menguraikan  inti sarinya, terutama  pencocokan daerah kejadian saat dipergunakan  pengetahuan umum geografi  dan sejarah  dunia  atau nasional dalam keadaan tertentu  menurut suasana hikayatnya.
Pada pokok hikayat di uraikan  bahwa  nenek moyang  itu datang ke pesisir Indonesia umumnya dan  Sumatera khususnya  yang menurut logat mereka  “reh ku pertibi si la ertepi  enda”  dari dua  “negeri   nini pemena”  yaitu leluhur Pemula, datang dari dari negeri yang disebut  “YUNA ( YUNAN )”  ialah  dari Cina Selatan dan Asia  Tenggara  serta  “BARAT” yakni Asia Selatan (India , Pakistan, Banglades, dan lain- lain).
Yang datang dari  negeri “Yuna” itu  masih tergolong  “animisme” atau “agama pemena”, sedangkan yang bersal dari “Barat”  sudah beragama, yaitu agama Budha. Suku- suku bangsa pesisir  yang saling  bercampur darah  (perkawinan)  sesamanya  inilah  merupakan nenek moyang  suku  Karo  setelah kelak  masuk  ke daerah  pedalaman (Pembauran).
PEMUKIMAN DATARAN TINGGI  KARO  
Leluhur kita yang  yang bermukim disepanjang  pesisir Sumatera  berkembang  memeluk  kepercayaan  yang beraneka ragam yaitu  animisme, Budha, Hindu, dan lain lain, sebelum maupun sesudah  berdiri  Negara Nasional I (Kedatuan Sriwijaya) dan  Negara Nasional II (Keprabuan  Majapahit) antara abat VII- XVI.
Karena pekerjaan nenek moyang kita  selaku kaum  bahari dan pedagang, maka sudah jelas merekapun bergaullah  dengan orang asing  yang memeluk pelbagai agama, termasuk  Muslim, sehingga kian lama makin banyaklah agama yang dianut penduduk.
Perbedaan agama pun tak dapat dihindahkan. Yang dalam turi- turi Karo diceritakan bahwa dalam  satu keluarga mungkin terdapat dua atau atau beberapa kepercayaan yang berlainan, antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga bangsa asing yang memeluk pelbagai macam agama datang ke Indonesia untuk berdagang sambil menyiarkan agamanya masing- masing. Selain  membawa keagamaan juga  mengenai kebudayaan yang mempengaruhi tata kehidupan pendududk.
Demikianlah seorang  pedagang Venesia benama Marcopola pada tahun 1292 telah menyaksikan perkembangan pesat penyiaran agama Islam  didaerah Aceh yaitu  Samudera Pasai dan Peureulak. Pada tahun 1345, menutut Ibnu Batulah, sudah mapan benar agama Islam sebagai anutan  penduduk Di Samudra Pasai, yang keterangannya ini diperkuat pula oleh musyapir Cina bernama Ceng Ho, yang berkunjung ke daerah tersebut tahun 1405.
Menurut versi karo, pada masa- masa itulah terjadi perubahan tata kemasyarakatan yaitu kaum yang tak hendak memeluk agama Islam membentuk kelompok – kelompok . Lalu berpindah ke daerah pedalaman meninggalakan sanak keluarga yang telah  mayoritas beragama Islam. Kemudian agama  Islam meluas berkembang sepanjang pesisir; terutama dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636).
Kemudian maka terjadilah apa yang dinamakan “Mburo Bicok Pertibin”, yaitu mengadakan pengungsian secara besar- besaran  dengan bertekad untuk tidak akan kembali lagi ke negeri asal buat selama- lamanya. Diceritakan pada masa itu hutan raya di daerah pedalaman belum dihuni  oleh manusia .
Bahasa “kita” ialah cakap melawi — , yang kemudian  berubah seperti yang sekarang ini. Perubahan bahasa  terjadi akibat peroses pembauran melalui puak- puak yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya dalam kehidupan adalah logis. Sebagian mereka yang masuk kepedalaman dari arah pantai Timur maupun dari arah pantai Barat, pulau Sumatera.
Mereka yang tertinggal adalah sudah memeluk agama Islam dan hijrah tidak hendak memeluk Islam. Perjalanan memasuki rimba hutan  belantara itu, sangat sukar, perlu ada pemimpin atau Panglimanya. Mereka masuk dan  beranggapan bahwa ditempat yang dituju itu religinya/kepercayannya itu akan aman dilanjutkan sebagai warisan nenek moyangnya.
Diketahui  dalam hikayat bahwa  pemeluk Islam, selalu mangadakan pendekatan dengan saudara-saudaranya yang kini berada di wilayah  pegunungan  dan bergaul saling berkunjung, akhirnya, kaum yang tadinya mempertahankan kebiasaan memuja religi nenek moyangnya itu pelan-pelan  ditinggal mereka dan mereka memeluk Islam. Atau diam- diam status quo, sementara menimbang- nimbang mana patut dilanjutkan dan mana patut diterima, atau ditolak.
Selanjutnya perjalanan yang  sedemikian jauhnya yang disebut ke-dataran tinggi dinyatakan sebagi “taneh tumpah darah”  yang baru kemudian di berikan nama “TANAH KARO SI MALEM”
PERTIBI PERTENDIN MERGA SI LIMA SI ENGGO KA REH IBAS  DESA SI WALUH  NARI
“Tanah Karo Si Malem”  artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nyaman, hidup atau mijati, akan dipertahankan selamanya. Pertibi Pertendin Merga Silima artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MARGA terdiri dari  : Karo- Karo , Ginting, Sembiring, Tarigan , Perangin- angin.
“Sienggo ka reh ibas desa siwaluhn nari” artinya: untuk jangka waktu yang lama  tak henti- hentinya datang rombongan pengungsi dari segala penjurui mata angin (delapan  penjuru) kedataran tinggi, sehingga menjadi buah bibir setiap ada rombongnan  terlihat  datang dari pesisir, terucaplah  kata- kata, enggo ka reh… enggo kalakreh enggo kalakreh…( Kareh ) kemudian berubah sebutannya kalak reh, kareh … kare,  Karo , menjadi … KARO, yang artinya  kalak= orang . reh = datang, Karo = orang datang.
Artinya menjadi; orang yang datang sengaja mengungsi  untuk mempertahankan religinya/ kepercayaaannya. Mereka datang dan mengharukan, sebab perjalan mereka itupun jauh, lebih kita terharu, KALAK  AROE = KARO  Mereka itu melanglang, berani, harus keras hati, mandiri, budi luhur tetapi suka bermusyawarah dan mau menerima atau tidak kaku.
Terlihat dalam perkembangannya Merga Karo- Karo, Perangin-angin , Sembiring sebelum berangkat meninggalkan leluhurnya di “Barat” tempo dulu sudah memiliki Indentitas berupa Merga dan Cabang  Merga ,seperti Merga Ginting  dan Merga Tarigan  bersasal dari YUna (Wilayah Selatan ; bahkan ada hubungan atas serangan Mongolia dari utara Jengis Khan  dsb).
Jatidiri berupa “Merga” telah disandang turun temurun. Oleh karena itu sekalipun kelompok itu baru tiba akan mendapat kemudahan untuk mengelompokkannya sesuai Merga yang disebutkan orang yang baru datang. Di Suku Karo hanya ada LIMA MARGA, dan memiliki cabang untuk setiap marga. Sekalipun ada cabang-cabang tiap Marga, tapi tidak terlalu banyak, tidak mencapai ratusan jumlahnya keseluruhannya. Keseluruhan cabang Merga Silima hanya ada 75 cabang.
Meneliti sejarah maka pemukiman orang Karo di dataran tinggi diperkirakan pengungsian awal sekitar tahun 1350-an dan terbanyak tatkala pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1660-an sehingga disimpulkan bahwa sudah ada orang Karo tahun 1300-an.
Orang Karo yang datang dengan rombongan tepo dulu ke hutan rimba raya tidaklah besar, sekalipun persyaratannya berangkat “KUH SANGKEP SITELU ” yaitu Kalimbubu,Senina, Anak Beru . Contohnya dalam cerita  bahwa rombongan KARO mergana , berangkat dari LINGGA RAJA menuju  dataran tinggi, sampailah di puncak “Deleng Penolihen” yaitu pegunungan antara “Tiga Lingga – Tiga Binanga” terpaksa di tunda perjalannya. Sekalipun jumlah rombongan sebelas, tetapi tertinggal anak beru-nya Perangin- angin mergana. Terpaksa di jemput lagi kearah asal atau memberi gantinya sebagai  “anak beru”.
Terpenuhilah syarat tadi , tiba mereka disuatu lokasi dan mendirikan “KUTA LINGGA PAYUNG”. Sejak itu nama bukit barisan diantara  Karo – Dairi disebutkan oleh  orang Karo “Deleng Kuh Sangkep”. Setiapa orang Karo mesti dapat dimasukkan dalam salah satu diantara lima marga   tersebut diatas, sebab barang siapa yang yang tidak hendak memakai indentitas demikian, tidak akan diakui sebagai “Kalak Karo” yang dinamakan “nasap tapak nini”, misalnya, banyak dahulu terjadi  orang yang “tercela ahlaknya ” di desanya lalu merantau ke-negeri lain tanpa mejunjujung tinggi merganya atau menggantinya, orang yang memeluk agama Islam dengan menghilangkan indentitasnya itu seraya mengaku orang Melayu  kampung atau “kalak Maya- Maya” terutama di Karo Jahe ” dan lain- lain .
Tetapi sebaliknya setelah terbentuk SUKU KARO, dahulu ada orang dari suku lain sekalipun yang oleh sebab misalnya, mengadakan perkawinan dengan orang Karo bisa diterima Bermerga atau memiliki Beru pada salah satu merga diantara yang lima tersebut. “Merga” ialah indentitas pria yang diturunkan terhadap putrinya akan dinamakan “beru”. Beru adalah indentitas wanita yang diturunkan terhapa putra – putrinya umpamanya , beru Karo, diturunkan kepada putra putrinya dengan sebutan bere- bere  Karo.
Semua indentistas tersebut merupakan lambang suci yang dalam bahasa Karo dinamakan “Tanda Kemuliaan” yang gunanya untuk menghitung berapa tingkat keturunan telah berlangsung merga bersangkutan hingga dirinya sendiri sejak dari nenek moyang yang dahulu berangkat dari negeri asalnya ” yaitu (Barat) bagi keturunan Karo-  Karo , Perangin- angin dan Sembiring, sedangkan  “Yuna” untuk Ginting serta Tarigan.
Hitungan jumlah tingkat keturunan itu dinamakan “Beligan Kesunduten Nini Adi” yang dahulu turun temurun diceritakan sehingga tahulah sesorang akan asal usul dan  nenek moyangnya. Putra-Putri yang seketurunan pantang mengadakan  kawin  mawin sesmanya, sebab indetitasnyaq akan sama buat selama- lamanya, kendatipun dengan memakai “Sub Merga”,yaitu “nama khusus ” yang diciptakan berdasarkan keluarga tertentu dalam suatu desa dan atau sesuatu peristiwa dahulu yang merupakan aliran darah khas pula ,namun harus tunduk kepada pokok merga ,Merga Silima.
Jadi orang Karo terbentuk dari bermacam- macam suku atau puak bangsa yang oleh pengaruh lingkungan daerahnya membentuk watak, adat istiadat dan masyrakatnya yang tertentu yang  mempunyai perasamaan serta perbedaaan dengan suku- suku bangsa Indonesia  lainnya, namun bersifat “mandiri” dalam arti sejak dahulu bebas merdeka mengatur pemerintahannnya.
Akan tetapi karena Tanah karo merupakan daerah pedalaman yang tidak akan dapat berswasembada dalam segala hal akan kebutuhan hidupnya, maka terpaksa jugalah mereka mengadakan hubungan dengan  “suku”  atau  “bangsa lain” terutama mengenai bahan makanan seperti garam  yang disebut “Sira”
Mereka langsung menyebarkan penduduknya keluar batas dataran tinggi karo yang berguna sebagai daerah pengubung dan penyangga serangan dari luar yang menurut logat mereka dinamakan “Negeri Perlanja Sira Ras Pulu Dagang ” yang kini daerah- daerah tersebut ialah  Aceh Tenggara , Dairi, Tapanuli Utara, Simalungun, Asahan, Deli Serdang, dan Langkat.
Pulu dagang ialah pedagang yang membeli garam dan lain lain di pesisir seperti di Langkat, Deli Serdang, Asahan , dan Singkel yang di angkut ke ‘Taneh Pengolihen – Tanah Karo ” oleh satu rombongan manusia yang diberi nama julukan Perlanja Sira, meski ada juga mempergunakan  “Kuda Beban” sebagai alat pengangkutannya. Setiap rombongan  perlanja Sira  dikawal oleh pasukan bersenjata, sebab waktu itu di Deleng Kuh Sangkep (nama bukit barisan yang terletak di  bagaian selatan Tanah Karo) maupun di Deleng  Merga Silima  (nama Bukit Barisan dibagian datyaran tinggi Karo) banyak penyamun serta binatang buas.
Untuk nmengenal kawan dipailah kata “sandi atau kode” di pegunungan sebelah utara  tanah Karo setiap berpapasan dengan rombongan manusia lain diucapkan “Merga” yang kalu kawan menjawab..”Si Lima”  yang dilanjutkan dengan. Taneh Pengolihen yang dijawab teman “Karo Simalem” bila mana tidak sesuai  jawabnya dianggap  “musuh”, demikian sekelumit ceritanya  maka nama  pegunungan yang puncak- puncaknya antara lain gunung Sinabung- Sibayak dinamakan orang  Karo deleng Merga silima.
Sumber: Akun Facebook Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun

Sekilas tentang Arsitektur Rumah adat Karo..


Rumah Adat Karo Sepuluh enem jabu i Kabanjahe simerupaken Rumah Sebayak Kabanjahe tahun 1923.Rumah Adat Karo Sepuluh enem jabu i Kabanjahe simerupaken Rumah Sebayak Kabanjahe tahun 1923.












Rumah adat Karo bertingkat dengan arsitektur yang cukup menakjubkan
Rumah adat Karo bertingkat lima 

Sunday, 16 October 2011

Dasar Ertutur di Adat Karo

Dasar Ertutur

Ertutur menjadi hal yang sering dijumpai dalam pertemuan orang Karo. Saling memperkenalkan diri, identitas yang melekat di dirinya masing-masing. Sebelum mengetahui identitas teman bicara, dan saling mengetahui hubungan kekerabatannya berbincang-bincang belumlah dianggap nyaman. Berkaitan dengan teori komunikasi yang mengatakan bahwa komunikasi bergantung pada hubungan orang yang berkomunikasi tersebut. Tambah lagi dalam masyarakat Karo, ada budaya ngerana erkesehen yang berarti berbicara haruslah berkesempaian, dalam pengertian kalau kita berbicara dengan ibu kita, kita harus berbicara berkesempaian, pas ditujukan kepada ibu tersebut "enta senndu, Nde" (berikan aku uangmu, Bu), bukanlah "enta sen" seperti berbicara pada angin.


Agar kita bisa ertutur maka kita terlebih dulu harus mengerti beberapa identitas kita berikut ini:


1. Merga / Beru
Marga atau clan yang pada laki-laki disebut Merga, yang berarti meherga, mahal, serta pada perempuan disebut Beru, yang berasal dari kata mberu sebuah kata yang merupakan gambaran dari sebuah keanggunan dan kecantikan dalam masyarakat Karo.
Merga/ Beru ini diperoleh dari Ayah. Clan ayah inilah yang menjadi Merga bagi laki-laki dan Beru bagi perempuan.
Dalam Kebudayaan Karo, ada lima clan, yang populer disebut Merga Silima, khususnya lebih populernya setelah adanya Keputusan Kongres Kebudayaan Karo, 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi merekomendasikan, agar pemakaian merga berdasarkan “merga silima”, yaitu :

1.      Karo-karo
2.      Ginting
3.      Tarigan
4.      Perangin-angin
5.      Sembiring

Selanjutnya, lima merga ini diikuti dengan submarga yang memiliki pembagian sub merga masing-masing.


2. Bebere/ Bere-bere
Bebere ini kita peroleh dari ibu kita. Beru ibu kita ini menjadi bere-bere kita.


3. Kempu
Perkempun ini datang dari Nenek yang melahirkan Ibu kita. Beru Nininta (nenek) dari Ibu menjadi Perkempun kita.


4.Binuang
Binuang ini datang dari Nini (nenek) yang melahirkan Ayah kita. Beru Nini dari Ayah ini menjadi Binuang kita.


5. Kampah
Kampah ini datang dari Nini Bulang (kakek) dari Ayah kita. Bebere Nini Bulang ini menjadi Kampah kita.


6. Soler
Soler datang dari Nini Bulang dari Ibu kita. Bebere Bulang dari Ibu ini menjadi Soler kita.


Hal mendasar ini menjadi yang harus diketahui masing-masing individu untuk bisa Ertutur dengan orang lain. Identitas dasar ini menjadi hal yang akan terus dipakai, jadi perlu untuk mengetahuinya dengan baik.



Sumber : http://jamburta.blogspot.com/2011/09/dasar-ertutur.html


ARTIKEL TERKAIT :
  1.  Ginstha' Blog. . .: Ertutur
  2.  cara ertutur
  3.  Orat Tutur Karo
  4.  Budaya Ertutur Sebagai Bahasa Pergaula

PAKAIAN ADAT KARO

PAKAIAN ADAT



Jenis -  jenis pakaian adat yang ada dan biasa di kenakan masyarakat karo,.
berikut nama beserta penjelasan nya :

1.Uis nipes
 Untuk tudung, "maneh-maneh" (kado untuk perempuan), untuk mengganti pakaian orang tua (pihak perempuan) dan sebagai alas "pinggan pasu" (piring) pada saat memberikan mas kawin dalam upacara adat.


2.Uis julu
 Untuk sarung, "maneh-maneh", untuk mengganti pakaian orang tua (untuk laki-laki) dan selimut.


3.Gatip gewang
 Untuk menggendong bayi perempuan dan "abit" (sarung) laki-laki


4.Gatip jongkit
 Untuk "gonje" (sarung) upacara adat bagi laki-laki dan selimut bagi "kalimbubu" (paman).


5.Gatip cukcak
 Kegunaannya sama dengan gatip gewang, bedanya adalah gatip cukcak ini tidak pakai benang emas.


6.Uis pementing
 Untuk ikat pinggang bagi laki-laki


7.Batu jala
 Untuk tudung bagi anak gadis pada pesta "guro-guro aron". Boleh juga dipakai laki-laki, tapi harus 3 lapis, yaitu:

  • uis batu jala,
  • uis rambu-rambu dan 
  • uis kelam-kelam.
8.Uis arinteneng
 Sebagai alas waktu menjalankan mas kawin dan alas piring tempat makan pada waktu "mukul" (acara makan pada saat memasuki pelaminan), untuk memanggil roh, untuk "lanam" (alas menjunjung kayu api waktu memasuki rumah baru), untuk "upah tendi" (upah roh), diberikan sebagai penggendong bayi dan alas bibit padi.


9.Uis kelam-kelam
 Untuk tudung orang tua, untuk "morah-morah" (kado untuk laki-laki), dan boleh juga dipakai oleh laki-laki dalam upacara adat, tapi disertai batu jala dan rambu-rambu.


10.Uis cobar dibata
 Untuk upacara kepercayaan, seperti "uis jinujung", "berlangir" dan "ngelandekken galuh".


11.Uis beka buluh
 Untuk "bulang-bulang" diikatkan di kepala laki-laki pada upacara adat.


12.Uis gara
 Untuk penggendong anak-anak, tudung untuk orang tua dan anak gadis.


13.Uis jujung-jujungen 

 Untuk melapisi bagian atas tudung bagi kaum wanita yang mengenakan tudung dalam upacara adat. 


Sumber : http://aksesories.blogspot.com/2007/10/pakaian-adat.html


ARTIKEL TERKAIT :
  1. Pakaian Adat Karo
  2.  Adat Karo | Download Lirik dan Lagu Karo
  3.  Rumah Adat Karo - Rumah Siwaluh Jabu
  4. Pernikahan Adat Karo « Batavusqu
  5.  Deru Studio - PERNIKAHAN ADAT KARO